Featured Post

Pendidikan Psikologi

3 Mitos Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Lelaki

Yodi Supriyadi Yodi Supriyadi
Saturday, February 11, 2023
0 Comments
Home
Pendidikan Psikologi
3 Mitos Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Lelaki
Kesehatan mental merupakan kondisi dimana individu memiliki kesejahteraan yang terlihat dari dirinya serta sadar akan potensinya sendiri


Jika berbicara tentang kesejahteraan holistik seseorang maka harus menjaga setiap aspek, termasuk kesehatan emosional, sosial dan psikologis. Sangat penting untuk menjaga kesehatan mental seseorang di setiap jenjang usia, mulai dari masa kanak-kanak hingga usia tua. Karena kesehatan mental dan fisik adalah komponen penting dari kesejahteraan secara keseluruhan, setiap individu harus menjaganya dengan baik.

Sayangnya, seiring dengan beban perawatan kesehatan mental di masyarakat, banyak stigma negatif yang muncul seputar kesehatan mental kaum Adam ini. Misalnya, “Mard ko dard nahi hota”, “Pria harus tegar”, dan “Pria jangan menangis”- adalah ungkapan yang biasa digunakan untuk mempersulit pria bahkan untuk membicarakan kesehatan mental mereka.

Berdiri melawan asumsi dan keyakinan yang salah, maka pentingnya menjaga kesehatan mental pria untuk memastikan bahwa tidak ada individu yang menderita dalam diam. Dr Jini K. Gopinath, Chief Psychology Officer, your DOST, berbagi beberapa kesalahpahaman umum yang dipecahkan oleh data berbasis penelitian yang menunjukkan kenyataan:

Pria Cenderung Mengatasi Situasi Sulit Secara Negatif

Merupakan kepercayaan umum bahwa ketika pria menghadapi tantangan dalam hidup, mereka cenderung menggunakan mekanisme koping yang berbahaya seperti ledakan kemarahan yang tiba-tiba atau mendekati alkohol, obat-obatan dan zat lainnya. Ini jauh dari benar. Faktanya, sesuai penelitian, beberapa strategi kesehatan umum yang dilakukan pria meliputi:
Menggunakan humor untuk mengatur ulang pikiran
Jalan-jalan bersama teman
Mengalihkan diri dengan tidak berpikiran negatif

Pria Tidak Mencari Bantuan

Asumsi ini muncul bahkan dari mitos yang mengakar, menang tidak “membutuhkan” terapi. Namun, statistik menunjukkan sebaliknya. Catatan menunjukkan bahwa saluran bantuan rehabilitasi kesehatan mental Pusat menerima hampir 70% panggilan dari pria dan anak laki-laki di seluruh negeri. Ini menunjukkan bahwa pria, seperti orang lain, membutuhkan dukungan profesional dari waktu ke waktu dan selalu terbuka untuk mencari bantuan.

Wanita Lebih Rentan Terhadap Masalah Kesehatan Mental

Dengan asumsi umum bahwa wanita lebih vokal tentang kesehatan mental mereka muncul mitos bahwa masalah kesehatan mental tidak mempengaruhi pria. Namun, statistik menceritakan kisah yang berbeda. Menurut Survei Kesehatan Mental Nasional 2015 hingga 2016, prevalensi keseluruhan morbiditas mental di antara pria adalah 13,9%, dan untuk wanita, 7,5%.

Dengan demikian dapat disimpulkan:
Penelitian di seluruh dunia telah menekankan pentingnya menyebarkan kesadaran tentang kesehatan mental untuk menormalkan pencarian dukungan. Memulai dialog seputar kesehatan mental, mempertahankannya, dan menantang mitos yang mengakar adalah jalan ke depan sehingga kesehatan mental pria dianggap penting.

Blog authors

No comments