Pemurah Yang Buruk

Purwakarta, candatangan - Ada orang yang sangat pemurah, yakni memberikan pahala-pahala kebaikannya kepada orang lain dengan cara mengghibah, mengadu domba, memfitnah, nencela, mencaci maki dan bentuk kezaliman lainnya. Dan ini sifat pemurah yang paling buruk, karena membuat dirinya bangkrut di akhirat. 

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,

 أسوء أنواع الكرم هو كرمك في إهداء حسناتك للآخرين غيبة ونميمة وبهتاناً وسباً وشتماً.

Jenis sifat pemurah yang paling buruk adalah sifat pemurahmu dengan menghadiahkan pahala kebaikan-kebaikanmu kepada orang lain dengan cara ghibah, mengadu domba, memfitnah, mencela dan mencaci maki." (Majmu' al-Fatawa, VIII/454). 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, 

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ (رواه مسلم).

"Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?" Para sahabat menjawab: "Orang bangkrut di kalangan  kita ialah orang yang sudah tidak memiliki dirham  atau sesuatu kekanyaan apapun." Beliau Nabi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  lalu bersabda: "Orang rugi dari kalangan ummatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa dan zakatnya, tetapi dahulunya ketika di dunia  pernah mencaci maki si pulan, memfitnah si pulan, makan harta si pulan, mengalirkan darah si pulan tanpa dasar kebenaran, pernah memukul si pulan. Maka orang yang dianiaya itu diberikan kebaikan orang tadi dan yang lain pun diberi kebaikannya pula. Jikalau kebaikan-kebaikannya sudah habis sebelum terlunasi tanggungan penganiayaannya, maka diambillah dari kesalahan-kesalahan orang-orang yang dianiayanya itu lalu dibebankan kepada orang tersebut, selanjutnya orang itu dilemparkanlah ke dalam neraka." (HR. Muslim). 


Seandainya seseorang mau menggibah dan yang lainnya itu lebih baik mengghibahi kedua orang tuanya, karena merekalah yang berhak mendapatkan pahala-pahala kebaikan. Daripada orang lain yang mendapatkannya. 

Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahullah :

لو كنت مغتابا أحدا،لا غتبت والدي لإن هما أحق بحسناتي

Seandainya aku mau menggibahi seseorang, tentu aku akan mengghibahi kedua orang tuaku, karena sesungguhnya keduanya yang paling berhak mendapatkan kebaikan-kebaikanku .


Berkata Al Imam Asy Syafii rahimahullah :

لو كنت مغتاباً أحد لأغتبت أمي فإنها أحق الناس بحسناتي

Seandainya aku mau menggibahi seseorang, tentu aku akan mengghibahi ibuku, karena sesungguhnya dia yang paling berhak mendapatkan kebaikan-kebaikanku. Sumber :  http://iswy.co/e14lq5 


Oleh karena itu, jika menginginkan pahalanya tidak lenyap, hendaklah menahan lisannya dari ghibah, mengadu domba, memfitnah, mencela, mencaci maki dan kezaliman lainnya kepada orang lain. Dan segera meminta maaf dan minta dihalalkan selagi di dunia kepada orang yang dizalimi, agar tidak menjadi orang yang merugi di akhirat kelak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, 

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ ، أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ ، وَلاَ دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ. (رواه البخاري).

"Barangsiapa yang di sisinya ada sesuatu dari hasil kezaliman untuk saudaranya, baik yang mengenai kehormatan saudaranya itu atau pun sesuatu yang lain, maka hendaklah meminta maaf (kehalalannya) sekarang juga semasih di dunia, sebelum tidak berlakunya dinar dan dirham. Jikalau tidak meminta kehalalannya (meminta maaf) sekarang ini, maka jikalau yang menganiaya itu mempunyai amal shalih, diambillah dari amal shalihnya itu sekadar untuk melunasi kezalimannya, sedang jikalau tidak mempunyai kebaikan sama sekali, maka diambillah dari keburukan-keburukan orang yang dizalimi itu, lalu dibebankan kepada yang menzaliminya tadi." (HR. Bukhari). 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url